Kamis, 31 Agustus 2023

Perjalanan Karir Taylor Swift, Penyanyi Multitalenta Dengan Segudang Piala

 


        Taylor Alison Swift atau yang kerap kita sebut Taylor Swift lahir di West Reading, Pennsylvania, Amerika pada 13 Desember 1989. Putri dari Scott Kingsley Swift (Ayah) dan Andrea Swift (Ibu) sekaligus kakak dari Austin Kingsley Swift.

        Bakat Swift pada bidang seni musik sudah terlihat sejak kecil, dan diketahui pula bakat Taylor Swift menurun dari sang nenek, Majorie Finlay yang merupakan penyanyi opera. Saat usianya masih 3 tahun, ia pernah menghibur wisatawan dengan menyanyikan soundtrack film "The Lion King" (1994) yang berjudul "I Just Can't Wait to Be King".

        Seiring bertambahnya usia, bakat menyanyi Swift semakin meningkat. Pada usianya yang ke 10, ia diajarkan bermain tiga chords pada gitar oleh seorang reparasi komputer. Dia juga berhasil memenangkan kontes karaoke dan festival nyanyi yang digelar di kota asalnya. Swift juga kerap mengirimkan contoh rekaman suaranya sejak ia masih berusia 11 tahun. Selain menyanyi, Swift juga berbakat dalam hal menulis puisi dan lagu, pengalaman pribadi dan hal menarik lainnya sering menjadi inspirasi Swift dalam menulis lirik lagu dan puisi.

Potret masa kecil Taylor Swift

        Meski memiliki bakat yang luar biasa sejak kecil, hidup Swift saat kecil tidaklah mulus. Ia mengalami bullying semasa sekolah. Untungnya, Swift dapat mengatasi pengalaman buruknya tersebut dengan hal positif, yakni dengan berkarya. Ia sering menulis dan menciptakan lagu serta pernah menulis sebuah novel dengan panjang 350 halaman ketika ia berusia dua belas tahun. Semua hal tersebut ia lakukan untuk menghilangkan stress yang ada dalam pikirannya.

        Keseriusan Swift pada dunia musik mulai terlihat saat ia beranjak dewasa, ia sering mengunjungi Nahsville, Tennesse untuk menulis lagu dan mencoba mendapatkan kontrak rekaman. Perjuangan Swift berbuah manis dan berhasil memukau sejumlah label rekaman lokal dengan lagu-lagunya.

        Taylor Swift memulai debutnya sebagai penyanyi pada tahun 2006 saat usianya masih 17 tahun dengan merilis album yang berjudul sama seperti namanya, Taylor Swift, dengan single debut yang berjudul "Tim McGraw". Single Tim McGraw berhasil menduduki peringkat 40 di Billboard Hot 100 dan peringkat 6 di Billboard Hot Country Songs.

        Setelah sukses dengan album debutnya, Swift kembali merilis album Fearless pada 2008. Album ini sukses besar dan berhasil mengantarkan Swift menjadi artis termuda yang memenangkan empat Grammy Awards.

        Menjadi penyanyi muda berbakat bukan berarti selalu mendapat kemudahan. Ia sering memperoleh cibiran dari beberapa seniornya di dunia musik, khususnya pengalaman tidak menyenangkan Swift saat di MTV VMA pada tahun 2009. Kala itu, Swift yang baru saja memenangkan penghargaan Best Video Clip ingin berpidato di atas panggung. Tiba-tiba saja penyanyi rap senior, Kanye West naik ke atas panggung dan memotong pidato Swift sekaligus mencibirnya terang-terangan. Menurut Kanye, Beyonce lebih pantas memenangkan penghargaan tersebut. Meski begitu, Taylor Swift tetap berlapang dada dan menerima permintaan maaf Kanye.

        Hingga 2015, setidaknya Swift sudah dinominasikan sebanyak 541 kali dan memenangkan 250 diantaranya. Ia juga setidaknya berhasil memenangkan 10 Grammy Awards, 23 American Music Awards, 23 Billboard Music Awards, dan 12 Country Music Association Awards.

Potret Taylor Swift di Grammy Awards 2012

        Setelah merilis album Fearless, Swift kembali merilis album Speak Now (2011). Lalu pada tahun 2012, Swift kembali merilis album Red. Album Red ini berisi 16 lagu yang ditulisnya bersama berbagai penulis lagu populer. Di album ini, Swift juga berkolaborasi dengan Ed Sheeran di lagu "Everything Has Changed" dan Gary Lightbody di lagu "The Last Time". Album tersebut berhasil mencapai penjualan dengan jumlah 1 juta di minggu pertama penjualannya.

        Tak ingin berada di zona nyaman dengan genre country, Swift mulai keluar dari zona nyamannya dengan merilis album 1989 (2014) yang bergenre pop. Album ini berhasil menjadi album terlaris per 30 September 2015 dengan total 3.568.000 eksemplar terjual secara global sepanjang paruh 2015. 1989 berhasil memenangkan nominasi Album of the Year dan Best Pop Vocal Album pada ajang penghargaan Grammy Awards tahun 2016.

        Setelah sukses besar melalui album 1989, Swift kembali mengguncangkan dunia musik dengan merilis album Reputation (2017). Swift kembali merubah genrenya menjadi electropop dan R&B. Tidak sampai disitu, pada tahun 2019 Swift merilis album Lover dengan genre pop rock. Album ini terdiri dari 18 lagu dengan vibes musik yang lebih ceria, berbeda jauh dengan album sebelumnya, Reputation.

        Pada saat virus covid-19 sedang marak-maraknya di tahun 2020, justru tidak menjadi penghalang Swift dalam berkarya, Swift merilis 2 album pada tahun yang sama. Swift merilis album Folklore dan Evermore yang keduanya dirilis tahun 2020. Di era ini, Swift kembali ke esensi lagu dan suara gitar yang cukup dominan di kedua album.

        Album studio ke-10 Taylor Swift dirilis tahun 2022 dengan tajuk Midnights. Di album ini, Swift bereksperimen menggunakan genre elektronika, synth pop, dream pop, dan chill out. Album ini memechakan rekor Spotify untuk album yang paling banyak diputar dalam sehari.

Potret cover album Midnight

        Dari ke-10 album milik Taylor Swift, tidak semuanya berjalan dengan lancar. Pada tahun 2018, kontrak Swift dengan label rekamannya, Big Machine Records berakhir. Swift berpindah ke label rekaman yang baru yakni Republic Records dan Universal Music Group. Setelah Swift pindah, label Big Machine Records menjual 6 album pertama Swift senilai 300 juta dollar kepada Scooter Braun. Scooter Braun sendiri merupakan musuh bagi karir Swift, karena dirinya pernah menginjak-injak Swift saat ia sedang berada di titik terendahnya.

        Sebelum keenam album Swift dijual, Big Machine Records sempat menawarkan 6 album Swift untuk dibeli master albumnya oleh Swift. Namun di salah satu interview bersama CBS Sunday Morning, Swift menyangkal Big Machine Records pernah menawarkan 6 album kepadanya. Menurut versinya, ia mengatakan bahwa ia pertama kali mengetahui bahwa albumnya dijual melalui berita di internet.

        Beruntungnya, Swift masih bisa merekam ulang lagunya. Swift merekam ulang keenam albumnya bukanlah tanpa alasan, ia merekam ulang lagunya agar ia bisa mendapatkan hak cipta sepenuhnya atas keenam albumnya tersebut. Dan sekarang seperti yang kita sudah sering dengar, Swift mulai merekam albumnya secara bertahap dan merilisnya dengan judul yang sama namun ditambahkan (Taylor's Version) di judul albumnya. Mulai dari Fearless (Taylor's Version), Red (Taylor's Version), Speak Now (Taylor's Version), dan selanjutnya Swift akan merilis 1989 (Taylor's Version) pada 27 Oktober 2023 mendatang.

        Selain merekam ulang ke-6 albumnya, Swift juga disibukkan dengan world tour yang sedang ia laksanakan mulai dari Maret 2023 lalu sampai November 2024 mendatang, tour ini berjudul The Era's Tour. Di konser ini, Swift akan membawakan 44 lagu dari keseluruhan albumnya dengan durasi konser 3 jam. Konser ini diadakan setelah 5 tahun lamanya ia tidak menggelar world tour. Konser ini berhasil memecahkan rekor sebagai konser dengan penonton terbanyak yakni hingga hampir 70 ribu orang.

Potret Taylor Swift di panggung The Era's Tour

Music video Anti Hero oleh Taylor Swift



Mengekspresikan Diri Melalui Seni Lukis A. Pengertian Pada dasarnya seni lukis merupakan cabang ilmu seni rupa yang diwujudkan melalui karya...